Si Paling Multitasking

SI PALING MULTITASKING

Mungkin hari ini cuma Damkar yang paling dihati, selain gercep saat bencana melanda , Damkar juga ramah dan yang pasti nggak pernah menyakiti hati rakyat netizen, pokoknya Damkar adalah prototipe mantu idaman di era post truth, asal tahu saja  DAMKAR dikenal nggak pernah ngambil alih pekerjaan Polisi apalagi Tentara termasuk ambil alih pekerjaan Kementrian Pertanian dan Kementrian Kesehatan dengan alasan kemampuan multitasking, padahal DAMKAR sangat dan pasti mampu menjadi  sekedar tiup tiup peluit seperti Polisi apalagi  jadi Tentara yang konon katanya cuma korve doang di barak.

Acuannya kerap luar negeri, refrensinya seperti di Eropa atau setidaknya pengen seperti Singapura, tetapi kadang kita lupa kalau kita  masih ngerokok sembarangan dan belum becus menangani sampah,  kita juga masih kucing kucingan nilep pajak dan ogah bayar retribusi apalagi berani jujur lapor SPT di coretax, padahal orang Singapura dan Eropa setidaknya mereka  lebih disiplin saat ngantri di  KRL atau Busway, mereka sepertinya lebih santun saat ngisi BBM yang self-service.


Urusan disiplin dan santun inilah yang mau nggak mau sering memaksa TNI dan Polri di Indonesia berperan  multitasking, haqul yakin karena DNA dan genetis kedua organisasi ini yang lahir saat krisis perjuangan bangsa Indonesia sedang mencapai puncaknya, bisa jadi saat itu Ibu pertiwi sedang ngidam, beliau mengidamkan putra putrinya kelak menjadi tentara dan polisi yang lahir dari Rakyat, bekerja untuk Rakyat dan kembali menjadi Rakyat.


Konsep ngidam ibu pertiwi ini kemudian diterjemahkan menjadi value : Prajurit Pejuang dan Pejuang Prajurit, kalau mau jujur, Masyarakat netizen harusnya kritis ketika ada jabatan di BUMN ataupun Kementrian dan Lembaga yang diduduki oleh anggota TNI dan Polri aktif, termasuk kalau  mau jujur harusnya juga lebih kritis terhadap pelaksanaan proyek MBG dan Koperasi Merah Putih maupun beberapa PSN yang banyak dikerjakan oleh TNI dan Polri baik sebagai mandornya termasuk sekaligus jadi kulinya, karena pertanyaan dan peryataan kritis itu juga harus ditujukan kepada TNI dan Polri saat penanganan bencana alam di Sumatera atau lokasi lainnya pada  waktu lalu serta yang paling terasa saat berbagai negara lain gagap dan terseok-seok menghadapi pandemi, justru Indonesia relative lebih baik dengan berhasil menggelar vaksinasi massal dan membangun imunitas  menghadapi pandemi Covid-19.


Memang bukan cuma TNI dan Polri yang bekerja … kalau boleh disebut saja dengan “berjibaku” menghadapi drama dan dramatisasi vaksin covid 19 ini, ada peran Pemda , kementrian terkait bahkan peran MUI dan tokoh tokoh Masyarakat lainnya, tetapi menghadapi drama vaksinasi massal sepertinya kita harus jujur dan kembali mengingat baik-baik…kalau Dandim dan Kapolres tidak dipaksa lewat laporan pencapaian jumlah vaksin secara zoom meeting tiap hari. sepertinya program vaksinasi massal yang digelar instansi yang berwenang tidak akan mencapai hasil maksimal dalam membangun imunitas umum.


Drama Masyarakat Indonesia memang gak separah Masyarakat Konoha,  masyrakat Indonesia relatif mau diundang ( artinya harus dijemput pakai bus atau truk milik TNI, Polri atau pemda atau sewa swasta) untuk  hadir dan  divaksinasi, masyarakat Indonesia juga sangat pengertian dan tetap berterima kasih walaupun pulangnya hanya mendapat oleh oleh  sembako termasuk kadang kadang ada undian berhadiah motor yang bisa dibawa pulang setelah  vaksin.

coba bandingkan dengan warga Konoha yang harus minta ongkos PP rumah ke tempat Vaksin, Honor karena hilang jam kerja , pilihan menu makan siang yang gluten free dan organic serta kadang minta privilege undian yang harus menang.

Sepertinya kalau hanya mengandalkan kementrian Kesehatan saat itu yang mentrinya saja harus berganti beberapa kali ataupun mengandalkan Pemda yang juga gagap mengadakan vaksinasi, maka pilihan aba -aba: … Pimpinan Saya Ambil Alih …. oleh Dandim dan Kapolres setempat bakalan jadi alternatif Solusi yang paling masuk akal, karena mereka punya sumber daya prajurit yang siap satu komando satu perintah satu perbuatan serta adanya dukungan peralatan minimal seperti kendaraan dan alat alat khusus yang seharusnya untuk kepentingan militer yang bisa dialihkan sementara waktu mendukung vaksinasi massal di Indonesia, Cuma kadang-kadang bagaimana caranya Dandim dan Kapolres putar otak untuk membayar atau setidaknya memberikan honorarium juru Vaksin bagi vaksinator dari kementrian Kesehatan dan kadang kadang juga menyisihkan BBM mereka untuk mengganti BBM milik Pemda saat pak Dandim atau pak Kapolres pinjam Truk BPBD dan Satpol PP guna antar jemput masyarakat yang akan divaksin di Polres atau Makodim dan Mako Batalyon TNI yang mengadakan, selain itu kalau gak dipancing dengan sembako dan undian berhadiah, jangan harap warga Netizen mau datang berbondong-bondong, penuh antusias mengikuti Vaksin, yang ada malah nyebar isu tentang haram dan halal vaksin termasuk konspirasi elite global pokoknya sama segaris dengan perilaku rakyat Konoha.


Kenapa sih lantas prajurit yang pejuang dan pejuang yang prajurit tadi mau capek capek mengerjakan pekerjaan kementrian lain, padahal mengerjakan pekerjaan orang lain berisiko mendapat kecaman , minimal cacian tidak professional, dianggap serba bisa kecuali pekerjaan utamanya, serta resiko paling parah adalah dukungan anggaran ada di kementrian atau Lembaga lain  menjadi tidak terserap namun belum tentu  bisa dialihkan kepada TNI atau Polri, tetapi pekerjaan itu  tuntas dan selesai, nah mulai bingung kan.


Beberapa kisah sebagai Gambaran hanya terjadi di  Indonesia dengan segala dramanya adalah ketika bangsa ini memasuki era Pembangunan.

Program  transmigrasi ABRI  dicanangkan, prajuit TNI dan Polri yang akan pensiun ( kala itu umur pensiun sekitar 45-48 tahun) mereka yang menjelang pensiun  akan diberikan opsi alih daya  menjadi pegawai swasta di beberapa BUMN dengan resiko siap pindah ke wilayah dekat Konoha sana , sebagai konsekuensi ketika  pegawai asli BUMN saat itu  tidak ada yang mau atau berani tugas di tempat yang gak bisa ngelihat puncaknya Monas

Opsi kedua adalah calon purnawirawan ditawarkan alih karya menjadi petani lewat program Transmigrasi ke beberapa daerah yang secara matematis cuma petani berlatar belakang tempur saja yang bakalan kuat bertahan serta tabah menjalani kehidupan lokasi trans, syaratnya : mau ganti helm baja jadi caping bambu dan  mau letakkan senjata diganti Cangkul, banyak daerah tertinggal, terpencil dan terluar Indonesia yang pada akhirnya bisa jadi Makmur dan terang benderang ketika purnawirawan ini datang, termasuk banyak fasilitas BUMN yang bisa terbangun dan terselenggara layanan umumnya ketika banyak diawaki oleh mantan alih daya ABRI.

Menjadi professional adalah Impian semua profesi, apalagi dengan pembinaan karier yang tepat serta reward yang memadai, setidaknya professional itu berani mengatakan Kalender di rumahnya ada juga warna merahnya dan di setiap minggu bagi seorang professional yang menjunjung profesionalisme bisa mengatakan sorry gw lagi weekend untuk recharge energi dan mental health kembali optimal di weekday berikutnya.


Memang mungkin  sudah menjadi “kutukan” sekaligus berkah saat menjadi Tentara dan Polisi di Indonesia, harus siap ditempatkan dimana saja dan bisa menjalankan semua pekerjaan walaupun bukan tugas utamanya, Bangsa ini  bersyukur karena  tentara dan polisinya bisa “ ditumbalkan” untuk mengerjakan pekerjaan orang lain yang belum beres , belum tuntas atau tidak bakalan tuntas dan beres karena adanya beberapa  drama seperti karakter oknum pegawainya yang  terlalu pintar tapi terlalu takut mengambil keputusan yang punya resiko tinggi, mati dipenugasan di luar struktur atau merana diperiksa KPK.


Kementrian dan Lembaga apalagi BUMN di Indonesia tentunya tidak kekurangan sumber daya manusia cerdas dan pandai, lulusan luar negeri maupun ivy league dalam negeri bergengsi, tetapi dalam prakteknya mereka harus berkompetisi dengan lulusan AKABRI maupun AKPOL untuk mengisi jabatan karier di lingkungan kerja mereka , para cerdik cendekia yang berangkat dari jabatan karier professional menghadapi perwira / purnawirawan tentara dan polisi yang sekolahnya konon cuma berdasarkan syarat tinggi badan dan berat badan saja, terus oleh Mentrinya atau oleh Ketua Badan dan Lembaga, para perwira atau pensiunan ini dibawa masuk dan menduduki jabatan yang sudah lama ditunggu oleh pejabat karier.


Fenomena ini memang terjadi, walaupun dalam kajian manajemen sumber daya manusia hal ini sifatnya kontraproduktif tetapi dalam kajian kepemimpinan hal ini merupakan hal biasa dan bahkan harus dilakukan ketika seorang pemimpin (Mentri dan kepala Badan/ Lembaga) memilih orang -orang yang dipercaya dan dianggap bisa bekerja sesuai arahan atau setidaknya bisa menterjemahkan visi dan misi yang digagas seorang pemimpin, jadi factor ivy league, pembinaan karier serta IQ bukan serta merta menjadi factor penentu dalam jabatan tetapi adalah pilihan untuk mencari yang pandai atau memilih yang bisa kerja.


Kesimpulanya adalah bahwa Masyarakat netizen saat ini sedang mendefinisikan kembali makna Multitasking, Profesionalisme dan tugas pokok dari Tentara dan Polisi mereka, ini adalah harapan besar bagi Masyarakat seluruhnya bahwa visi profesionalisme aparat negara adalah sebangun dengan cita cita membentuk Masyarakat Indonesia yang patuh hukum, disiplin , beretika dan memiliki empati terhadap kemanusiaan , jujur dan berani membela kebenaran dan keadilan. Sebagai Masyarakat yang egaliter dengan menempatkan keadilan sosial bagi seluruh rakyat Indonesia yang menjunjung tinggi HAM dan peghormatan atas azas Bhineka Tunggal Ika dengan memandang perbedaan SARA sebagai kekuatan bangsa Indonesia.

Paling pas sih Masyarakat yang tertib  pakai Helm saat bawa motor, mau pasang seat belt kalau bawa mobil, menolak nyerobot jalur busway apalagi jalur MRT dan KRL serta gak norak main petasan di lingkungan perumahan.


Jadi anda pilih mantu yang mana: Tentara, Polisi atau Damkar??? ….Yang mana aja boleh asalkan mereka sayang dan cinta kepada anak anda dan terutama kepada anda, kalau mereka gak suka kepada anak anda? Ya itu masalah anda, bukan masalah saya.

Tinggalkan komentar

Artikel terkait

Tanya Jawab Umum

How do I request approval for home modifications?

Submit an architectural review request form through the member portal or contact the HOA office directly.

How often should I maintain my lawn?

Lawns should be mowed weekly during growing season and maintained year-round according to seasonal guidelines.

What are the quiet hours in our community?

Quiet hours are from 10:00 PM to 7:00 AM on weekdays, and 11:00 PM to 8:00 AM on weekends.