
Pembentukan Polisi Istimewa berawal dari upaya Jepang memobilisasi kekuatan rakyat Indonesia untuk memenangkan perang di ASIA, bentuknya mulai dari barisan pekerja seperti Romusha, barisan “wanita penghibur “/ Jugun Ianfu , barisan pembantu militer seperti Heiho dan PETA serta adanya barisan kepolisian yang menangani urusan kamtibmas, karena bentuknya sebagai organ kepolisian ( kelak disebut sebagai Keibodan dan Tokubetsu Keisatsutai) akhirnya organ kepolisian bentukan Jepang ini memulai sejarahnya sendiri dalam pengabdian kepada NKRI khususnya setelah Jepang kalah dalam perang Dunia II dan kekuasaan kolonial beralih kepada Sekutu dengan menugaskan NICA untuk melaksanakan operasi polisionil di Indonesia.
NICA yang memahami aturan perang bersikap kooperatif terhadap badan-badan pelayanan dan perlindungan umum yang sudah ada sejak Jepang masih bercokol, layanan seperti Kesehatan, Kebakaran dan Kepolisian serta layanan umum lainnya seperti telegrafi, telepon, radio serta Listrik dan gas termasuk Kereta api dan Pelayaran sipil tidak boleh diganggu gugat sepanjang organ -organ tersebut bekerja sesuai tupoknya dan tidak terlibat dalam konflik senjata apalagi ikut angkat senjata.
tetapi disinilah awal dari statetmen “Polisi Istimewa…senjata yang berbalik arah” tepatnya yakni ketika tanggal 17 Agustus 1945 di Jakarta , saat Soekarno dan Hatta “dipaksa ” oleh kaum pemuda untuk memproklamirkan kemerdekaan Indonesia, tanpa perlu prosesi dan prosedur rumit, para anggota barisan Tokubetsu di Jakarta yang saat itu memiliki berbagai nama dan kesatuan seperti : barisan Polisi Macan, Polisi Istimewa dan beberapa nama lain serta merta langsung turun melakukan tugas polisionil pertamanya dengan melakukan penjagaan di lapangan IKADA berhadap hadapan langsung dengan Polisi dan Tentara Jepang yang sedang menunggu NICA datang untuk melucuti bala tantara Dai Nippon yang sudah kalah.
Semenjak Proklamasi Kemerdekaan Indonesia di lapangan IKADA itulah cikal bakal “Polisi Negara” langsung bertindak sebagai pengawal pribadi Soekarno dan Bung Hatta ( kelak peran ini menjelma menjadi cikal bakal Paspampres seperti saat ini), mekanisme switch dilakukan dengan mengganti pin Bunga Matahari di pet Polisi dengan pin bendera merah putih serta pada atribut lainnya termasuk langsung mengambil alih senjata dan kantor Polisi Jepang dan mengganti Bendera Hinomaru menjadi bendera Merah Putih sebagai lambang kedaulatan negara.
Upaya ini kemudian diikuti oleh penunjukan Mangil (purna dengan pangkat AKBP sekaligus korban peralihan orde lama kepada orde baru) bertindak sebagai komandan kawal Pribadi presiden dan wakil presiden seketika itu juga, sementara di Surabaya terjadi peristiwa lebih dramatis dengan aksi “PROKLAMASI KEPOLISIAN” tepatnya pada tanggal 21 Agustus 1945, dibawah pimpinan Inspektur M Jassin, pernyataan proklamasi ini sekaligus menjadi Deklarasi bahwa peran Polisi sebagai organ sipil biasa otomatis berubah seketika menjadi kombatan, konsekuensinya adalah bahwa Polisi ( waktu itu baru Polisi istimewa dan Polisi Macan yang ada ) berubah statusnya lewat pengakuan sebagai Belligerent (Recognition of Belligerency) yakni pengakuan resmi atas sebagai bagian dari pihak yang berkonflik yang memiliki organisasi teratur dan menguasai sebagian wilayah, artinya Polisi boleh melakukan upaya agresif perang terhadap NICA sembari tetap bertugas menjaga keamanan sipil, yang artinya juga terhadap Polisi Istimewa saat itu berlaku hukum perang dan siap menjadi korban perang.
Pada masa awal kemerdekaan Indonesia beberapa layanan public tetap berjalan dengan baik, walaupun terdapat beberapa kaum muda revolusioner di masing masing instansi yang ikut angkat senjata membawa nama instansinya seperti Angkatan Muda Kereta Api Indonesia yang kiprahnya eksis pada penyelenggaraan angkutan bagi mobilitas pemerintah RI yang baru terbentuk maupun aksi aksi sabotase terhadap kepentingan pihak NICA , layanan lain pun demikian Damkar tetap eksis sebagai Brandweer yang sigap memeberikan layanan darurat kebakaran, namun tidak tercatat dalam sejarah manapun adanya perilaku tengil oknum Damkar yang melempar lemparkan Helmnya.
Tinggalkan komentar