BCC

Jaman orba dulu ada fenomena menarik.. anak kolong ( panggilan untuk anak dari anggota TNI maupun Polri) kerap bersitegang dengan kelompok anak anak dari komunitas lainnya.

Mereka pada masa itu menyebut dirinya dengan GANK..dengan rupa rupa julukan termasuk mengambil julukan sebagai BCC alias Bajingan Cilik Cilik… Gank anak anak muda jaman itu belum merambah sampai jadi Gank Motor seperti saat ini, anak anak jaman dulu masih jalan kaki pakai sandal jepit atau setidaknya baru sampai pakai sepeda jengki atau BMX , karena sampai kapanpun nama Gank tidak akan pernah seram bila disandingkan dengan sepeda  pancal menjadi Gank Sepeda apalagi Gank Onthel.

Hari ini ada fenomena tentang.. kekerasan dan anak anak.

Densus 88 Anti Teror Polri, telah melakukan setidaknya dalam 3 kali gelombang penindakan.

Terdapat puluhan anak anak yang kemudian berstatus menjadi ABH baik sebagai Tersangka anak maupun Saksi anak termasuk juga puluhan lainnya yang mendapatkan pembinaan oleh Densus 88 bersama STAKEHOLDER lainnya.

Fenomena radikalisme pada anak – anak umumnya terjadi lewat komunikasi intensif yang mereka lakukan di berbagai platform media sosial.

Terdapat sebuah Group medsos bernuansa keagamaan namun pada kenyataannya, komunikasi yang terjadi dalam group lebih banyak membahas kekerasan extrim  maupun tindakan brutalisme, selain itu group tersebut juga kerap membagikan konten tentang pembuatan Bom termasuk memberikan kesempatan kepada member group medsos tersebut untuk saling berbagi pengalaman praktek pembuatan bom tadi.

Geliat dalam berbagai group medsos yang mengandung konten kekerasan tersebut juga menyimpan bahaya lainnya, seperti adanya identitas orang Dewasa yang kerap bertindak sebagai creator group maupun menjadi admin group, terdapat potensi manipulasi yang bisa dilakukan oleh orang orang dewasa tadi terhadap member group yang masih anak anak maupun remaja.

Berdasarkan pengakuan salah seorang anak yang menjadi member group medsos tadi, bahwa dirinya tertarik masuk mengikuti percakapan didalam group karena mendapatkan undangan yang diberikan oleh teman main game onlinenya, berangkat dari sini , percakapan pindah kedalam group medsos yang lebih besar termasuk pada akhirnya dirinya pun mengundang salah seorang kawan lainnya serta adiknya sendiri untuk ikut bergabung dalam komunitas di group medsos tadi.

Peristiwa pemboman di SMA 72 Jakarta maupun peristiwa Pembakaran Pondok Pesantren di Aceh , memiliki benang merah yang sama dengan fenomena penegakkan hukum terhadap berbagai group medsos oleh Densus 88:

1. pola rekrutmen terhadap member group;

Hasil kegiatan penegakkan hukum dalam 3 gelombang operasi tahun 2025 menunjukkan bahwa sebagian besar anak anak ini mendapatkan ajakan untuk bergabung pada sebuah grup medsos lewat komunikasi terlebih dahulu pada permainan game online, nama seperti ROBLOX, FREE FIRE maupun MOBILE LEGEND merupakan nama game online yang paling banyak dipakai sebagai tempat pertemuan virtual, walaupun demikian tidak menutup kemungkinan adanya undangan atau share link yang dengan mudah dibagikan oleh orang lain kepada seorang anak lainnya untuk kemudian bergabung dalam komunitas ini.

2. konten yang di unggah maupun dibagikan

Terdapat kecenderungan penggunaan konten kekerasan yang berlatar belakang aksi kekerasan yang dilakukan oleh jaringan terorisme global, seperti unggahan kejadian pemenggalan kepala, aksi bom bunuh diri maupun serangan bersenjata yang dilakukan oleh kelompok ISIS maupun Al Qaeda termasuk juga dengan konflik Palestina dengan Israel , walaupun juga aksi kekerasan yang tidak terkait dengan ideologi maupun agama juga tidak kalah menariknya ditampilkan sebagai konten , seperti perang antar gank narkoba maupun  perang antar polisi dengan kartel di Meksiko maupun Brazil.

Terdapat kecenderungan adanya manipulasi terhadap rasa ingin tahu anak anak ini dengan menampilkan aksi aksi kekerasan termasuk aksi bunuh diri maupun kecelakaan lalu lintas dan kecelakaan kerja serta korban kejahatan yang mengalami cedera bahkan kematian, konten bertemakan kematian targis ternyata memiliki pesona tersendiri yang sangat digemari oleh anak anak yang merupakan member group medsos tadi.

Usia anak anak yang bergabung umumnya
Sangat bervariasi tetapi  sebagian besar adalah adalah anak SMP dan SMA…karena bisa jadi pada masa ini mereka sudah masuk masa pubertas dan pressure peer group sesama pelajar juga makin keras serta kompetisi pencapaian akademik juga makin kencang.

Selain variasi umur terdapat fenomena lain yakni adanya berbagai latar belakang Agama….ternyata daya tarik konten KEKERASAN mampu menjadi magnet bagi anak anak yang rasa penasaran dan ingin tahu yang besar… Ada yang berlatar belakang agama Islam , Kristen, Katolik , Hindu dan lain lainnya, mengejutkan memang bahwa konten kekerasan yang berlatar kelompok ISIS maupun Al Qaeda ternyata bukan suatu hal yang penting, bahkan konten tentang ideologi white supremacy yang muncul di Jerman, Italia maupun Amerika serta kejadian Brenton Tarrant di NZ juga menjadi konten yang paling banyak diminati anak anak ini.

3. Kondisi psikologis anak

Proses radikalisasi ( tidak merujuk pada suatu ideologi semata) untuk kemudian  kekerasan merupakan proses  gradual yang menunggu adanya  momentum dan trigger yg tepat

anak anak yg mengkonsumsi konten konten kekerasan ” GORE”  dapat secara  tiba tiba meletus. Menjadi  kekerasan seperti tragedi pembakaran ponpes di Aceh maupun peledakan bom di SMA 72 Jakarta..

Penjelasan paling sederhana adalah ketika anak anak tersebut mendapatkan pressure sedemikian  hebat ketika mati Matianengejar prestasi ( les tambahan , bimbel termasuk paksaan masuk sekolah favorit  dan berasrama) maupun sedang  berupaya mewujudkan jargon : “menjadi kebanggaan Orang Tua, Agama, Negara dan Bangsa”  ditambah dengan kondisi lingkungan pendidikan keras, pengasuhan anak yang kurang  hangat, serta  adanya intimidasi kekerasan di ruang ruang sekolah berupa Bullying, kondisi tadi merupakan bahaya laten yang tersembunyi dibalik wajah anak anak ini , pressure ini akan semakin memampat ketika mekanisme katup pelepas tekanan tidak ditemukan maupun tidak didapatkan oleh anak anak tadi.

Sebagai mana kita pahami bahwa anak anak menghabiskan 1/3 harinya disekolah , sementara sisa 2/3 dihabiskan di medsos ( saat dirumah ) serta kegiatan harian lainnya termasuk sangat sedikit waktu untuk berinteraksi dengan orang tuanya.

Ketika pressure terhadap anak semakin memampat dan lewat sebuah peristiwa tertentu yang menjadi trigger / pemicu maka letusan kemarahan tadi dapat berupa tindakan melukai orang lain atau tindakan melukai diri sendiri.

Kasus peledakan bom maupun  pembakaran ponpes merupakan contoh dari letusan kemarahan yang diwujudkan dengan cara melukai orang lain ,karena ternyata terdapat juga berbagai laporan adanya perbuatan bunuh diri yang dilakukan oleh remaja saat ini.

Mekanisme melukai orang lain atau melukai diri sendiri merupakan pilihan paling rasional ketika orang tua , guru, polisi maupun masyarakat lainnya dipandang tidak mampu memberikan solusi atas permasalahan yang mereka miliki atau setidaknya mereka sudah sangat putus asa ketika mereka tidak tahu harus kemana dan bagaimana lagi mengadu.

4. Adanya trigger / pemicu kekerasan.

Memang terdapat kecenderungan bahwa anak anak yang tumbuh dalam keluarga yang tidak utuh  lebih mudah tergalang dan bergabung dengan berbagai group medsos kekerasan, walaupun terdapat  fenomena lainnya bahwa pengaruh KONTEN kekerasan ini juga menarik bagi anak anak yang tumbuh dalam keluarga harmonis, berkecukupan, cukup hangat dan terpandang dalam status sosialnya.

Anak anak dan remaja cenderung memiliki sifat imitatif …. Mereka akan meniru gaya berpakaian bahkan pola perilaku setiap idola atau tokoh yang dianggap paling patut jadi panutan…. Kalau dulu generasi baby boomers mengidolakan sosok The Beatles lengkap dengan celana Cut bray , kemudian Milenial mulai mengidolakan sosok Kris Kros, NKOTB , termasuk Gun N Roses, White Lion atau setidaknya Bryan Adams .. maka Gen Z saat ini mendapatkan panutan di Roblox dan Mobile Legend lengkap dengan konten konten yang harus diwaspadai

Tinggalkan komentar

Artikel terkait

Tanya Jawab Umum

How do I request approval for home modifications?

Submit an architectural review request form through the member portal or contact the HOA office directly.

How often should I maintain my lawn?

Lawns should be mowed weekly during growing season and maintained year-round according to seasonal guidelines.

What are the quiet hours in our community?

Quiet hours are from 10:00 PM to 7:00 AM on weekdays, and 11:00 PM to 8:00 AM on weekends.