pasca kerusuhan bulan Agustus 2025, memunculkan beberapa fenomena penting untuk menjadi pemahaman dalam konteks harkamtibmas bahkan keamanan nasional .
Bendera one piece menjadi simbol baru dalam bab tersendiri dari cerita tentang kebebasan berekspresi dan gerakan sosial menuju suatu perubahan bahkan yang mengarah kepada revolusi. Sebagai mana ditemukan pada kejadian kerusuhan di Nepal , Perancis dan Philipina, satu kata kuncinya adalah peran generasi X dan kekuatan media sosial yang mendominasi.
Generasi beralih ke generasi berikutnya lewat mekanisme suksesi, otoritas juga selalu berganti namun tidak dengan Kepolisian, karena hakekat tugas Kepolisian tidak akan pernah berubah.
Polri boleh berganti tetapi Polisi senantiasa hadir untuk menjadi penjaga peradaban yang terbentuk secara alamiah sebagai bagian dari peradaban itu sendiri yang bekerja untuk mengatasi bayang bayang kehidupan ( the shadow of Civilization) dari suatu peradaban yang terbentuk.
Anak muda akan senantiasa menjadi agen perubahan itu sendiri , kalau kini adalah Gen Z , maka besok adalah Gen Alpha sebagaimana dahulu kita kenal saat Era proklamasi lewat tangan anak anak muda yang berani ” melawan” rasa sungkan generasi tua , pun demikian pada peralihan masa Orla ke orba dengan peran strategis exponen 66 yang juga kemudian menyaksikan era kegemilangan mereka berhadapan dengan narasi dan militansi generasi Reformasi.
Filosofinya akan abadi sepanjang peradaban itu ada yang berbeda adalah kemasan, pengelolaan maupun dinamika organisasi kepolisian itu sendiri, namanya bakal senantiasa berubah, kedudukan dan strukturnya juga selalu berbeda dari jaman ke jaman.
Salah satu bagian dari dinamika organisasi kepolisian adalah entitas Korbrimob Polri, satuan ini memiliki. Keunikan karena tugas dan fungsinya sedikit berbeda dengan tugas kepolisian pada umumnya serta sedikit sama dengan tugas TNI .
konsep Brimob Nusantara sebagai sebuah langkah taktis Mabes Polri untuk menghadirkan kekuatan Brimob dari berbagai tempat untuk datang dan melaksanakan tugas brimob di Ibu kota, Konsep ini mulai berlaku sejak tahun 2014 ketika situasi Jakarta dikepung berbagai demo dan kerusuhan thematik dan bisa berjilid jilid.
Pemenuhan aspek manajerial : MEN , Money , Material dan Metode terhadap postur brimob yang memiliki daya gerak dan daya gempur kuat merupakan sebuah keniscayaan.
Walaupun belum ada sejarahnya dalam instansi Polri yang menyiapkan markas dan asrama lebih dahulu sebelum menyiapkan menpower satuan , namun pemenuhan menpower merupakan hal paling selektif saat ini terutama penyiapan :
1. police worker : golongan Tamtama dan Bintara;
2. kebutuhan first line supervisor pada golongan Perwira pertama dan;
3. kebutuhan Manajer menengah dan puncak bagi golongan Pamen dan bahkan Pati Polri.
Secara teoritis , pemenuhan unsur first line supervisor maupun middle manajer dapat disiasati dengan memulangkan kembali para Pama Brimob atau mereka yang pernah bertugas di Brimob, namun pola seperti ini juga perlu diperhatikan dan disiasati dengan bijak.
Ketika terjadi kondisi darurat tentunya memerlukan perintah darurat, sejarah juga mencatat , pola dan ritme yang sama , semoga saja tidak berulang seperti ketika dahulu Jenderal Hoegeng Imam Santoso sebagai Kapolri terpaksa mengambil keputusan paling pahit bagi Resimen Pelopor maupun Korbrimob Polri.
Para personil Menpor dibubarkan dengan pertimbangan adanya kebutuhan untuk mengisi personil di wilayah baru seperti Maluku dan Irian ( Papua) yang baru saja masuk menjadi bagian NKRI pasca PEPERA, ada juga analisa yang mengatakan adanya kecurigaan bahwa pembubaran Menpor jadi sedemikian kecil adalah langkah paling strategis untuk menjamin pemerintah Orde Baru saat itu bisa memulai rezimnya dengan aman, tanpa rasa khawatir adanya pengaruh satuan- satuan bersenjata yang konon merupakan loyalis Soekarno pada masa lalu ( lihat : operasi Ikan Paus yang menimpa KKO MARINIR)
sejarah pada akhirnya mencatat dan semoga tidak terulang, ketika timbul bencana, adalah ketika Operasi Seroja membutuhkan begitu banyak pasukan siap tempur atau setidaknya punya pengalaman tempur dari seluruh matra ABRI.
Tentu semua angkatan wajib serta merta termasuk Polri dalam hal ini Korbrimob, menyiapkan pasukan tempur.
Alhasil para ex Menpor yang sudah bertugas diberbagai tempat fungsi berbeda pasca likuidasi seperti sebagai Polantas ,Reserse maupun Polisi non Brimob lainnya di berbagai Komdak ( sebutan Polda jaman itu )
Proses regrouping harus segera dan darurat , terburu buru MEMULANGKAN Kembali para ex Menpor ke keatuan asal di Kelapa Dua , asalkan pernah jadi Menpor atau punya brivet Rimba Laut maka akan masuk formasi sebagai pasukan tempur yang akan berangkat ke Timor Timur .
Catatan ini secara jelas diceritakan dalam sebuah buku berjudul Resimen pelopor , Pasukan Elit yang terlupakan… Menyebutkan bahwa regrouping itu semakin parah ketika pasukan yang berangkat tempur tidak didukung kaporlap yang sesuai , ada yang membawa koper bukan ransel, malahan bukan mendapatkan bekal peluru yang memadai tetapi malah dapat stok kertas tik yang sangat banyak lengkap dengan mesin ketik yang harus digotong ke Kota Dilli.
Perintahnya sebagainpasukan pertahanan …. Defensif dan menyelenggarakan pemerintahan, termasuk sebagai pasukan perkuatan maupun pengamanan daerah daerah yang sudah berhasil dibebaskan oleh batalyon infanteri TNI AD maupun KKO Marinir , tapi perintah tinggal perintah….
Justru pasukan Yon Teratai ex Menpor ini harus ikut melakukan operasi offensif dengan kondisi peralatan dan kesiapan mental dan fisik pasukan seadanya.. tragedi Minggu Palma. Tahun 1974
Pasang surut pengelolaan Kekuatan Brimob tidak lepas dari sifat strategis yang dimiliki, sehingga untuk memelihara kekenyalan organisasi sebagai pasukan kepolisian bersenjata yang mobile ( dapat berpindah dengan cepat), maka pertimbangan untuk mengelola organisasi secara adaptif , modern dan humanis sesuai kebutuhan era post truth saat ini.
1. Korbrimob harus menegaskan peran strategisnya dengan meminta kuota lebih banyak dalam pembinaan karir terutama berperan dalam operasional satuan paling kecil, tentu lewat perbanyak kuota pendidikan SBP Brimob, biarkan mereka para Tamtama mendapatkan peran menjadi Bintara yang sangat dibutuhkan organisasi sebagai Danru, Wadanru dan Batis regu.
2. Kebutuhan pemangku Level first line supervisor yang diemban para IPDA dan Iptu Brimob harus diperbanyak lewat penambahan kuota pendidikan SIP reguler maupun harus lewat SIPSus Brimob, ini juga memberikan stimulasi paling kuat dalam pembinaan kemampuan dan disiplin di satuan , hal ini lebih menjanjikan keberhasilan dan kemanfaatan jangka panjang dari pada memaksakan memulangkan para Pama ex Brimob yang sudah bertugas sebagai Duta brimob di Polda maupun Polres.
3. Kembali menemukan ciri khas brimob sebagai pasukan bersenjata kepolisian yang memiliki mobilitas tinggi ( mudah berpindah), konsep ini mensyaratkan adalah too light for army but too heavy for police , Brimob mengisi celah itu sehingga ciri khasnya adalah: memiliki spirit penegak hukum yang profesional namun jagoan dalam “pertempuran” jarak dekat serta mudah dan cepat di mobilisasi lewat darat. ,laut dan udara syaratnya memiliki ukuran pasukan dan peralatan yang ringkas ,cukup masuk kebadan pesawat tertentu untuk sekali penerbangan atau bisa diangkut menggunakan kapal kapal polairud ke wilayah yang jauh.
4. Menguatkan spirit Brimob lewat pembinaan tradisi yang positif, salah satunya dengan penelusuran kembali sejarah masing masing satuan yang ada, nomenklatur satuan seperti nama kompi menggunakan angka tahun dan angka nomor urut pembentukan kompi, lihat sejarah Kompi 5992 Menpor, kompi 519 Lapis Baja dan lainnya, dengan demikian penelusuran asal muasal pengabdian sejarah brimob tiap tiap pribadi bisa diketahui.. oh saya alumni kompi 5191 Banyumas .
Setiap jaman punya orang orangnya demikian juga setiap orang ada pada Jamannya masing masing.
Tinggalkan komentar