Terdapat pola hubungan vertikal dan horizontal dalam menelisik Jiwa Korsa ..
Pertama, dengan meneliti hubungan atasan dan bawahan… sebagai pola hubungan vertikal top to down , dalam sebuah satuan yang militan tinggi karena pola latihan , penugasan bahkan resiko yang tinggi, pengaruh dominasi pimpinan terutama pimpinan langsung bakalan sangat terasa mewarnai jiwa korea satuan tersebut.
Ada pepatah yang menyebutkan apabila seekor singa memimpin sekumpulan domba maka dipastikan sekarang domba tadi akan berperilaku sebagai singa dan sebaliknya sekumpulan srigala bila dipimpin oleh kambing, maka besok semua srigala akan belajar mengembik.
Peran top leader di satuan ditambah dengan peran Komandan langsung … ini salah satu variabel penelitian yang harus diperhatikan…
Komandan punya otoritas langsung terhadap dinamika perilaku anggota dilapangan.
Hubungan vertikal ini ternyata memiliki dinamikanya sendiri, ada daya tarik sekaligus tolak ketika seorang Komandan langsung termasuk top Komandan harus berhitung dengan para “sesepuh” di satuan, mereka ini umumnya adalah senior senior yang punya track record
.. dijemur gak kering, direndam gak bisa basah, kadang kadang senior ini disebut Dewan Kopral atau Dewan Aiptu, sudah mentok karier sudah putus harapan tetapi masih tinggal bersama pasukan.
Komandan kalau salah menempatkan mereka para Dewan Kopral ini maka tinggal tunggu waktu ada matahari kedua dalam satuan , menangani para Dewan Kopral ini perlu selektif, memberikan ruang harapan mereka diperhatikan sekaligus memberikan batasan apa yang boleh mereka ajarkan atau tunjukkan didepan Junior Junior mereka yang masih senggol bacot, ya memang bacot bukan bacok.
Pola kedua adalah melihat hubungan peer group antar sesama , biasanya berupa hubungan Letting satu angkatan, lihat saja di kaos kaos yang dikenakan anggota tni dan polri , biasa nama nama angkatan selalu menghasilkan mereka , belum lagi akun akun milik mereka di medsos, pasti menyebut adanya singkatan nama angkatan dibelakang nama asli mereka, urusan nama letting walaupun berangsur angsur bakalan lebih mencair tidak sekeras dan sekaku masa masa fresh graduated tetapi tetap saja bisa memantik api konflik , karena urusan letting adalah bersaudara walaupun tidak sedarah.. bahkan ada tulisan di salah kaos anggota yang menyebutkan solidaritas lebih kental dari darah, pokoknya : letting adalah saudara yang dipilih sendiri sedangkan kakak atau adik adalah teman yang dipilihkan Tuhan untuk kita.
variabel hubungan horizontal ini juga endingnya bakalan efektif dipakai untuk eskalasi dan memobilisasi kekuatan sekaligus untuk de eskalasi mob, pegang tokoh tokoh tiap letting mereka untuk kemudian diberikan arahan agar mereka nanti yang berbicara kepada saudara mereka yang tak sedarah tadi.
Upaya mitigasi.
Memang laga klasik Tni dengan Polri ini bakal terus terjadi sepanjang tidak adanya upaya strategis untuk mencegah konflik terjadi.
Selama pendekatan yang dipakai adalah upaya penindakan oleh pimpinan maupun lewat mekanisme POM TNI dan PROPAM POLRI, dilanjutkan dengan menyederhanakan konflik terbuka tersebut sebagai perbuatan anak anak nakal atau oknum bandel dan ditutup lewat olah raga bersama ,dangtutan dan jogetan , maka the next el classico pasti terjadi lagi.
Pendekatan proaktif yang perlu dibahas adalah memberikan ruang waktu dan tempat bagi anggota tni dan polri ini untuk menemukan pola hubungan “ketiga ” Ketika sudah ada pemahaman hubungan Horisontal dan vertikal , kini saatnya harus mengelola hubungan DIAGONAL lewat penemuan identitas baru diluar Komandan dan bawahan, senior dan Junior apalagi letting dan angkatan .
Identitas ketiga inilah yang menjadi identitas lintas : angkatan , usia, pangkat, jabatan dan satuan, bentuknya paguyuban atau kekeluargaan berdasarkan Hobby, minat apalagi identitas primordialisme seperti Kesamaan SARA.
ada namanya IKMS … Ikatan Keluarga Minang Saiyo.. Paguyuban Sunda, Sekaa Bali dan lainnya terutama di daerah perantauan, pengurus paguyuban bisa jadi lintas matra dan keanggotaan juga lintas angkatan tetapi punya identitas baru… sama sama orang Sunda atau sama sama keluarga besar Jawa Timur di Jayapura…
Penemuan berbagai identitas alternatif inilah yang perlu dikelola, siapa tahu kapolres atau dandim bisa mengundang paguyuban warga Jatim atau warga Jabar untuk open house di rumahnya atau setidaknya Coffee miring di kantor selanjutnya titip titip pesan… tolong anggota tni dan polri yang ada di paguyuban bapak dan ibu diberikan bimbingan selalu….
Udah ngomong ke bapak atau ibu “piara” sebagai sesepuh di perantauan… mosok masih ngeyelll
Tinggalkan komentar