SEBERAPA PENTING PENGALAMAN LANGSUNG

Banyak senior mengatakan dulu dan dulu bagaimana dulu mereka survive dalam tugas yang dilaksanakan.Konteks bagaimana mempelajari dinamika penugasan di daerah konflik bersenjata tentunya harus melihat kembali catatan penugasan di beberapa waktu kebelakang.

Saat ini terdapat sejumlah korban dari pihak TNI maupun Polri serta masyarakat akibat gangguan keamanan dari kelompok Kriminal bersenjata di Papua , gambarannya begitu mudah pasukan pilihan ini menjadi korban .

Membahas daya gempur dan daya gerak setiap pasukan tentu tidak lepas dari bagaimana kompetensi yang terbangun dari skill , knowledge, attitude dan experience yang mereka bangun termasuk hubungan kondisi Medan yang harus dikalkulasi dalam setiap latihan pratugas yang diberikan serta… mungkin paling akhir adalah bagaimana spirit bertempur saat ini yang dengan mudah terlihat lewat pengamatan mata telanjang bagaimana moril pasukan serta perilaku mereka dalam tugas sehari-hari.

Rentang penugasan dalam konflik bersenjata yang berlarut dengan pelibatan pasukan TNI dan Polri setidaknya dapat terlihat dalam periode :

  1. Era revolusi fisik melawan pendudukan Jepang dan Belanda sampai pada akhirnya berhenti setelah KMB.
  2. Era menghadapi pemberontakan bersenjata tahun 50 sampai 60 an dengan melawan PRRI dan Permesta serta beberapa konflik dengan DI/TII serta RMS.
  3. Era perang di Timor Timur sejak tahun 1975 sampai lepasnya Timor Timur pasca jejak pendapat tahun 1998.
  4. Era konflik Aceh semenjak tahun 1990 sampai 1998 dengan operasi Jaring Merah dan berlanjut dengan beberapa operasi pemulihan keamanan dan operasi pemeliharaan keamanan di NAD sampai berakhirnya konflik pasca penjanjian Helsinki tahun 2005.
  5. Era konflik SARA di Maluku dan Sampit Kalteng sekitar tahun 2000 sampai 2005.

Lewat gambaran diatas ditemukan bahwa kompetensi pasukan ( khususnya level pimpinan pasukan di lapangan ) memiliki kualifikasi yang dipastikan memenuhi kriteria skill , knowledge, attitude dan paling penting adalah adanya combat experience.

Combat experience ini menjadi sedemikian penting , karena bagaimanapun hebatnya hasil didikan sekolah dan latihan pertempuran tetap akan menjadi teoritis sepanjang belum pernah diujicobakan secara langsung oleh lulusan sekolah yang bersangkutan. Aplikasi lapangan inilah yang akan membentuk postur pasukan menjadi sedemikian efektif dan efisien dalam pelaksanaan tugas, namun demikian combat experience juga memiliki kemungkinan untuk ditularkan lewat pembaharuan pelatihan dan pengembangan di lembaga pendidikan.

Inilah yang terjadi ketika generasi perwira lapangan saat ini tidak mendapatkan gambaran utuh taktik dan teknik agar survive di lapangan, terutama pasca konflik Aceh dan Poso Sulteng berakhir, hampir tidak ditemukan adanya kesempatan mendapatkan combat experience yang seutuhnya, walaupun dalam rentang tahun 2006 sampai 2024 terdapat beberapa kali konflik yang bisa dijadikan pengalaman penting untuk kemajuan taktik dan teknik menghadapi konflik bersenjata.

Sebut saja penanganan kelompok MIT pimpinan Ali Kalora di Poso Sulteng maupun Raid terhadap jaringan teroris di Indonesia, skalanya lebih kecil dan intensitas operasi juga sangat singkat dibanding dengan operasi menghadapi GAM dan Fretelin di dekade sebelumnya.

Kondisi kurangnya pengalaman ini berkontribusi kepada kegugupan pasukan dilapangan ketika berhadapan dengan kelompok Kriminal bersenjata sebagai mana OPM dan TNPB maupun nama nama lain dalam frame Papua saat ini, analisanya adalah perwira dan pasukan yang lulus setelah tahun 2006 keatas dipastikan tidak mendapatkan combat experience sebanyak dan seintensif senior-senior mereka terdahulu.

Kemudian pada tahun 2020 keatas lahir lagi generasi perwira dan pasukan baru ( Pangkat Bharada / Prada dan Ipda/Letda ) sebagai pasukan garis depan yang dipimpin oleh manajer menegah lulusan tahun 2006 keatas, artinya di level first line supervisor maupun middle supervisor mereka sangat sedikit yang punya pengalaman lapangan sedangkan pada top level manager kemungkinan besar sudah tidak sering turun langsung ke lapangan

Pasukan TNI dan Polri yang di tugaskan ke Papua ternyata juga memiliki peran penting dalam ” melatih” kemampuan tempur KKB.Kemaren mereka menghadapi manuver Kopassus, kemudian besok mereka paham bagaimana menghadapi Kostrad serta beberapa kali lolos menghadapi kepungan Brimob serta tidak lepas bagaimana Paskhas dan Marinir “ikut” melatih peningkatan kompetensi KKB.

Tulisan ini tidak bermaksud untuk mendiskreditkan apalagi meragukan bakti rekan rekan TNI dan Polri serta masyarakat yang telah menjadi korban dalam konflik dengan KKB , namun justru untuk menghargai dan menghormati pengorbanan para syuhada dengan mengajak kita mau berfikir lebih terbuka dengan merumuskan upaya penanggulangan terbaik mengatasi jatuhnya korban jiwa lebih banyak, namun sebagai konklusi dan solusi sarana adalah:

  1. materi dan referensi latihan perlu mendapatkan sentuhan dengan pembaharuan metode, kualitas dan kuantitas latihan yang setidaknya mendekati kondisi dan situasi lapangan.
  2. Penggabungan antara instruktur lembaga pendidikan yang memiliki pemahaman teori sangat baik namun kurang pengalaman lapangan dengan pasukan purna tugas operasi yang baru saja mengalami penugasan langsung dilapangan namun miskin konteks penyusunan modul pelatihan.
  3. Kemampuan manuver dilapangan tidak cukup hanya dibangun dengan drill kontak saja namun harus dilengkapi dengan kemampuan manajerial misi pada level komandan lapangan untuk memberikan bekal pengetahuan praktis do dan don’t serta TIP dan TOP dalam pelaksanaan misi termasuk membuat laporan administrasi dan penyusunan logistik pada level pasukan yang mereka bawa.
  4. Mengubah paradigma manuver lapangan yang sifatnya doktrin reguler dengan mempelajari strategi, taktik dan teknik manuver pasukan irregular.
  5. memahami bahwa kemampuan drill kontak dengan taktik dan teknik yang diajarkan saat ini perlu disesuaikan dengan pola pikir, taktik dan teknik bertempur lawan yang berakar lewat tradisi perang antar suku yang ada dan dilatihkan semenjak mereka kanak-kanak.

Semoga kebijakan untuk mengirimkan pasukan TNI dan Polri berdarah muda dengan harapan memiliki fisik kuat untuk mengimbangi daya gerak KKB dapat dikaji dan dipertimbangkan kembali, sebagaimana saat Uni Sovyet merangsek Afganistan dan berhadapan dengan militan Mujahidin, lihat juga pengalaman Amerika menghadapi Gerilyawan Vietcong dimana sangat mudah dan banyak korban justru dikalangan pasukan berdarah muda seperti ini, tetap menyala.

Tinggalkan komentar

Artikel terkait

Tanya Jawab Umum

How do I request approval for home modifications?

Submit an architectural review request form through the member portal or contact the HOA office directly.

How often should I maintain my lawn?

Lawns should be mowed weekly during growing season and maintained year-round according to seasonal guidelines.

What are the quiet hours in our community?

Quiet hours are from 10:00 PM to 7:00 AM on weekdays, and 11:00 PM to 8:00 AM on weekends.