Saya malah ingat dengan salah satu alat less than lethal weapon yg pernah ada di inventory polri…
Alat less than lethal weapon, pada umumnya terdiri dari alat yang bekerja dengan impact kinetik seperti penggunaan proyektil karet, kantung kacang ( Bean bag), proyektil dari kayu, termasuk semprotan air.
Terdapat juga alat pengendali masa yang menggunakan efek reaksi kimia seperti penggunaan gas airmata berbahan CN ataupun CS, maupun reaksi kimia yang dapat menimbulkan bau menyengat dan busuk yang diharapkan dapat membubarkan kerumunan dalam waktu singkat.
pada perkembangan lebih lanjut adalah penggunaan alat yang mampu mengusik panca indra manusia secara langsung seperti :
Penggunaan kilatan cahaya berupa lampu kilat super terang maupun pengeras suara yang menghasilkan ledakan Sonic sangat kuat dan terfokus ( LRAD .. Long Range Acoustic Device ) sehingga akan membuat pekak, tuli sesaat maupun pusing.
Brimob Polri pernah memilih alat yang disebut Pepperball , merupakan alat pelontar proyektile berkaliber kecil yang dapat melesat cukup jauh kemudian menimbulkan efek deteren akibat tumbukan proyektil ke tubuh pelaku anarkhis maupun sebagai akibat efek reaksi kimiawi ketika proyektil tersebut pecah dan menimbulkan rasa pedih akibat penggunaan agen kimia Cs
Varian proyektil Pepperball pada saat itu terdiri dari isian bubuk cabai , isian tepung talkum untuk latihan dan gel pewarna yang dapat digunakan sebagai penanda ( marker)
Pepperball merupakan salah satu dari sekian merek dagang alat pelontar proyektile yang secara umum disebut sebagai Marker, kompetitor lainnya diproduksi dengan merek seperti Azodin, ………..
Beberapa keunggulan penggunaan Marker ini adalah :
1. Cara penggunaan relatif mudah dengan biaya perawatan cukup terjangkau.
2. supply onderdil cukup banyak karena kerap dimainkan dalam bentuk permainan layaknya wargame paintball.
3. Pilihan proyektil juga sangat beragam …mulai yang memang untuk pengendalian UNRAS ( karena berbahan isian CS atau bubuk cabe ) maupun pilihan isian gel berbagai warna sebagai penanda / marker, serta saat ini juga terdapat proyektil berbahan karet yang dapat dipakai berulang kali.
4. Jangkauan jarak ” tembak” juga cukup memberikan ruang aman bagi petugas, jarak antara 10 sampai 50 meter adalah jangkauan yg cukup saat digunakan menundukkan ancaman yang menggunakan senjata tajam ataupun digunakan untuk sekedar mengusir pelaku anarkhis.
5. Daya kontrol yang lebih terfokus pada titik atau target tertentu, areal dampak tidak terlalu luas dan lebih sulit terbawa angin merupakan keunggulan lainnya dibandingkan penggunaan gas air mata yang sering terbawa angin, berbalik arah kepada petugas maupun kerap mencederai masyarakat yang tidak terlibat langsung dalam kerusuhan.
Sebagai sebuah alat , Marker memiliki juga kekurangan, walaupun termasuk dalam kategori less than lethal weapon namun apabila terjadi penyalahgunaan akan menjadi fatal terutama saat penembakan yang dilakukan terhadap bagian tubuh manusia seperti pada bagian kepala dan leher, termasuk luka lecet dan lebam pada permukaan tubuh lainnya sebagai akibat hantaman kinetik proyektil yang dilesatkan.
Polres dan Polsek, sangat membutuhkan Marker paintball seperti ini, terutama saat menghadapi situasi. Melerai tawuran antar warga maupun gank sekolah , menghadapi pelaku kriminal bersenjata tajam , termasuk menghadapi pelaku anarkhis yang melakukan penyerangan terhadap petugas maupun pembakaran dan perusakan fasilitas umum lainnya.
Tembakan “salvo” oleh lebih dari 1 Pucuk marker paintball pada jarak 50 meter dan dengan mode tembakan semi otomatis , sepertinya bakalan cukup memberikan peringatan : jangan merusuh , jangan mendekat nanti Fatal akibatnya.
Tinggalkan komentar