Tindak kekerasan yang dilakukan oleh anak dan remaja, bukan berdiri sendiri, ada mata rantai tindak kekerasan yang dilakukan oleh orang dewasa yang menjadi inspirasi dan contoh bagi mereka. Baik yang dilakukan individu maupun atas nama organisasi. Mungkin dilakukan oleh orangtua, mungkin juga guru, mereka yang berbendera ormas, atau bahkan aparat.
Kekerasan tersebut ditayangkan, dikabarkan, dikumpulkan dan disebarkan oleh media digital , terutama media sosial. Anak tidak mampu menarik makna dan konteks tayangan, mereka hanya mampu menyerap apa yang divisualisasikan. walhal, anak yang harus diubah, orang dewasa dulu yang harus mulai berubah, ekosistem media digital yg berubah atau semuanya?
Ijin berbagi pendapat.
Seen “Adolescence” on Netflix yet?
Pelajar yang diam2 tapi pelaku kekerasan/bomber dapat ditonton dalam film ADOLESCENCE.
Si anak yg pendiam dan terkesan baik, pulang sekolah lgsg masuk kamar dan gak main sama anak2 lainnya justru perlu kita awasi karena sebenarnya mereka sedang berselancar di dunia nya melalui media sosial dan rentan terpapar jaringan ekstrimisme kontemporer yg mengusung paham NIHILISME.

Remaja 14 tahun di Thailand melakukan aksi di luar akal sehat. Setelah membunuh kakek & neneknya. Ia lalu melakukan aksi penembakan di sekolahnya dengan total 9 orang meninggal dunia dan puluhan luka-luka.
Hasil penyidikan, ada luka batin akibat keluarga yang retak, bullying di sekolah dan stress akademik yang terjadi.
Fenomena luka batin pada anak, bullying dan stress akademik sudah ada sejak dulu. Namun jumlahnya tidak sampai berakhir tragis seperti sekarang. Maka pertanyaannya, Jika dulu tidak begitu lantas mengapa sekarang begini? Dan apa yang membuat remaja saat ini makin rentan pada tindak kekerasan nan radikal?